Satu kruk yang selalu setia ditangannya selalu terbayang setiap kali mengenang beliau.
Juga dua sepatunya yang berukuran tak sama.
Seperti ungkapnya, "Memang kaki ini istimewa." dan beliau tersenyum, meskipun saya khawatir dengan guratan kesedihan dihatinya.
Saya juga selalu terbayang dengan langkahnya yang goyang dan pelan -tapi mantap- menapak ke tanah.
Juga keringatnya yang selalu mengalir dalam keletihan.
Saya senantiasa mengenangnya karena beliau tidak pernah letih menjalani roda dakwah.
cacat kaki tak pernah menghalanginya menebarkan kebaikan.
Dengan keterbatasan fisiknya beliau mampu melakukan banyak hal - yang saya yakini - dikarenakan semangatnya yang luar biasa untuk berbuat.
Beliaulah jelmaan seorang wanita mulia yang hidup pada masa jihad dulu, saat Manshur bin Ammar memerintahkan kaum muslimin bejihad di jalan Allah.
Kemiskinan tidak menghalanginya untuk menyambut seruan itu.
Maka,, dibungkusnya dua kendali kuda miliknya dan digoreskannya selembar surat.
"Ibnu Ammar, anda memerintahkan kaum muslimin berjihad di jalan Allah. Demi Allah, aku tidak memiliki harta kecuali pengekang kuda ini yang saya berikan kepada anda. Demi Allah, jadikanlah keduanya ikatan kuda prajurit yang turut berperang di jalan Allah. Semoga dengan ini Allah mengasihi saya."
Gambaran wajah perempuan itu saya banyangkan sebagai wajah beliau.
mereka sama-sama mempunyai keterbatasan.
Perempuan itu tak punya harta, sedang beliau tak punya kesempurnaan fisik.
Semua itu tidak menghalanginya mempersembahkan diri untuk jihad.
Subhanallah ...
Sebagaimana ungkapan istri mujahidin di Afganistanpada Zainab Al-Ghazali, "iBunda, apalagi yang harus kami berikan untuk jihad ini ? tangan kami telah mengeras dan kasar, perut kami terbiasa kosong menahan lapar, dan hati ini kebal mendengar kabar duka. Apalagi yang dapat kami persembahkan untuk jihad ini, ibunda ?"
Lalu, kenapa saya juga tak bisa banyak berbuat denga harta dan kesempurnaan fisik serta waktu luang yang saya miliki ?
Pun bagaimana ia menerima cobaan yang sangat berat itu, semua butuh keberanian dan jiwa besar.
Bahkan airmata itu, selalu terkenang dalam hati -insyaalah untuk selamanya - kala beliau menceritakan kepedihan hatinya, di sela-sela kebahagian dua pengantin yang bersanding saat itu.
Kerut wajahnya saya cermati dengan baik, juga rintihan hatinya.
Beliau berduka.
"Dik, saya orang yang luar biasa, maka seorang yang bisa menggandeng saya pun harus orang yang luar biasa."
Dan beliau tersenyum di sela derai airmatanya.
Dan saya masih menyimpan pertanyaan yang tak tahu kapan akan terjawab.
Adakah orang yang luar biasa itu ?
Bukan hanya luar biasa karena kruknya, tetapi luar biasa karena keikhlasan yang membumbung ke langit, yang akan disambut para malaikat.
by : Koesmarwanti "Catatan Seorang Ukhti"
::::CINTA DALAM HENING::::
Sunday, September 26, 2010 10:29 PM
Duhai gadis, maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu.
Maka dengarlah..
Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..
Aku tahu, cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan. Karena rasa itu adalah cahaya. Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita.. Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun. Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna. Cinta terkadang mbuatmu bahagia, namun tak jarang mbuatmu menderita. Cinta ada kalanya manis bagaikan gula, Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir. Cinta adalah perangkap rasa.. Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.
Maka gadis, Agar kau dapat keluar dari belenggu itu. Dan mampu melaluinya dgn anggun.. Maka mencintailah dalam hening. Dalam diam.. Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari. Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan. Jangan kau umbar rasamu. Jangan kau tumpahkan segala sukamu..
Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang.. Kita percaya takdir bukan? Kita tahu dengan sangat jelas... Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya? Jadi, apa yang kau risaukan? Biarkan Allah yg mengaturnya, Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..
Cobalah renungkan... Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu.. Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam, Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?
Gadis, kita tak tahu dan tak akan pernah tahu.. Hingga saatnya tiba.. Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar... Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya? Gadis, Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar.. Begitu mulia untuk di tampakkan.. Begitu sakral untuk di tumpahkan..
Dan sadarilah gadis, fitrah kita wanita adalah pemalu, Dan kau indah karena sifat malumu.. Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan? Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap.. Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu.. Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan.. Dalam jeruji kesetiaan.. Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh.. Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dlm hening. Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu, Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu.. Agar kesucianmu tetap terjaga.. Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka, ku beritahukan padamu, Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan. Acuhkan semua godaan yg menghampirimu.. Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan.. Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..
Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu, Lalu..Arahkan pd Nya.. Dan cintailah dalam diam.. Dalam hening.. Itu jauh lebih indah..
Jauh lebih suci
Juga dua sepatunya yang berukuran tak sama.
Seperti ungkapnya, "Memang kaki ini istimewa." dan beliau tersenyum, meskipun saya khawatir dengan guratan kesedihan dihatinya.
Saya juga selalu terbayang dengan langkahnya yang goyang dan pelan -tapi mantap- menapak ke tanah.
Juga keringatnya yang selalu mengalir dalam keletihan.
Saya senantiasa mengenangnya karena beliau tidak pernah letih menjalani roda dakwah.
cacat kaki tak pernah menghalanginya menebarkan kebaikan.
Dengan keterbatasan fisiknya beliau mampu melakukan banyak hal - yang saya yakini - dikarenakan semangatnya yang luar biasa untuk berbuat.
Beliaulah jelmaan seorang wanita mulia yang hidup pada masa jihad dulu, saat Manshur bin Ammar memerintahkan kaum muslimin bejihad di jalan Allah.
Kemiskinan tidak menghalanginya untuk menyambut seruan itu.
Maka,, dibungkusnya dua kendali kuda miliknya dan digoreskannya selembar surat.
"Ibnu Ammar, anda memerintahkan kaum muslimin berjihad di jalan Allah. Demi Allah, aku tidak memiliki harta kecuali pengekang kuda ini yang saya berikan kepada anda. Demi Allah, jadikanlah keduanya ikatan kuda prajurit yang turut berperang di jalan Allah. Semoga dengan ini Allah mengasihi saya."
Gambaran wajah perempuan itu saya banyangkan sebagai wajah beliau.
mereka sama-sama mempunyai keterbatasan.
Perempuan itu tak punya harta, sedang beliau tak punya kesempurnaan fisik.
Semua itu tidak menghalanginya mempersembahkan diri untuk jihad.
Subhanallah ...
Sebagaimana ungkapan istri mujahidin di Afganistanpada Zainab Al-Ghazali, "iBunda, apalagi yang harus kami berikan untuk jihad ini ? tangan kami telah mengeras dan kasar, perut kami terbiasa kosong menahan lapar, dan hati ini kebal mendengar kabar duka. Apalagi yang dapat kami persembahkan untuk jihad ini, ibunda ?"
Lalu, kenapa saya juga tak bisa banyak berbuat denga harta dan kesempurnaan fisik serta waktu luang yang saya miliki ?
Pun bagaimana ia menerima cobaan yang sangat berat itu, semua butuh keberanian dan jiwa besar.
Bahkan airmata itu, selalu terkenang dalam hati -insyaalah untuk selamanya - kala beliau menceritakan kepedihan hatinya, di sela-sela kebahagian dua pengantin yang bersanding saat itu.
Kerut wajahnya saya cermati dengan baik, juga rintihan hatinya.
Beliau berduka.
"Dik, saya orang yang luar biasa, maka seorang yang bisa menggandeng saya pun harus orang yang luar biasa."
Dan beliau tersenyum di sela derai airmatanya.
Dan saya masih menyimpan pertanyaan yang tak tahu kapan akan terjawab.
Adakah orang yang luar biasa itu ?
Bukan hanya luar biasa karena kruknya, tetapi luar biasa karena keikhlasan yang membumbung ke langit, yang akan disambut para malaikat.
by : Koesmarwanti "Catatan Seorang Ukhti"
::::CINTA DALAM HENING::::
Sunday, September 26, 2010 10:29 PM
Duhai gadis, maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu.
Maka dengarlah..
Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..
Aku tahu, cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan. Karena rasa itu adalah cahaya. Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita.. Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun. Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna. Cinta terkadang mbuatmu bahagia, namun tak jarang mbuatmu menderita. Cinta ada kalanya manis bagaikan gula, Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir. Cinta adalah perangkap rasa.. Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.
Maka gadis, Agar kau dapat keluar dari belenggu itu. Dan mampu melaluinya dgn anggun.. Maka mencintailah dalam hening. Dalam diam.. Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari. Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan. Jangan kau umbar rasamu. Jangan kau tumpahkan segala sukamu..
Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang.. Kita percaya takdir bukan? Kita tahu dengan sangat jelas... Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya? Jadi, apa yang kau risaukan? Biarkan Allah yg mengaturnya, Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..
Cobalah renungkan... Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu.. Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam, Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?
Gadis, kita tak tahu dan tak akan pernah tahu.. Hingga saatnya tiba.. Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar... Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya? Gadis, Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar.. Begitu mulia untuk di tampakkan.. Begitu sakral untuk di tumpahkan..
Dan sadarilah gadis, fitrah kita wanita adalah pemalu, Dan kau indah karena sifat malumu.. Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan? Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap.. Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu.. Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan.. Dalam jeruji kesetiaan.. Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh.. Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dlm hening. Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu, Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu.. Agar kesucianmu tetap terjaga.. Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka, ku beritahukan padamu, Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan. Acuhkan semua godaan yg menghampirimu.. Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan.. Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..
Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu, Lalu..Arahkan pd Nya.. Dan cintailah dalam diam.. Dalam hening.. Itu jauh lebih indah..
Jauh lebih suci
Tidak ada komentar:
Posting Komentar