Total Tayangan Halaman

Kisah remaja

Kumpulan kisah-kisah, pengalaman, dan perjalanan hidup remaja Indonesia

Kamis, 23 Februari 2012

Sebelum Meninggal Dia Mengatakan, “Aku Mencium Bau Surga!”

Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Ada tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya…di antaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”
Dalam sebuah hadits shahih dari Anas bin an-Nadhr RA, ketika perang Uhud ia berkata, “Wah…angin surga, sungguh aku telah mecium bau surga yang berasal dari balik gunung Uhud.”
Seorang Doktor bercerita kepadaku, “Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah meninggal -semoga Allah merahmatinya-. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?
Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan jengkel? Atau apa?
Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal… tenanglah… sesungguhnya aku mencium bau surga.!’ Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan pada dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, jangan kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium bau surga.’
Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. ‘ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta SWT.
Allahu Akbar… apa yang harus kukatakan dan apa yang harus aku komentari… semua kalimat tidak mampu terucap… dan pena telah kering di tangan… aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman Allah SWT,
‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ (Ibrahim: 27).
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.”
Ia melanjutkan kisahnya,
“Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya’ di tempat memandikan mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Maghrib pada hari yang sama.
I. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat.” Ini merupakan tanda-tanda Husnul Khatimah.
II. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Padahal tubuh orang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.
III. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiaannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.
Subhanallah… sungguh indah kematian seperti ini. Kita bermohon semoga Allah menganugrahkan kita Husnul Khatimah.
Saudara-saudara tercinta… kisah belum selesai…
Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabannya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang ter-larang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan Husnul Khatimah yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkannya; meninggal dengan mencium bau surga.
Ayahnya berkata,
‘Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU’.”
Aku katakan, “Maha benar Allah yang berfirman,
‘Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang.’ (Fushshilat: 30-32).”
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN KARYA MUHAMMAD BIN SHALIH AL-QAHTHANI, PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616 sebagai yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir)
sumber; www.alsofwah.or.id

Aroma Kasturi Keluar Dari Hidung Jenazah Seorang Remaja Wanita Saat Dimandikan

Ummu Ahmad ad-Du’aijy berkata ketika ia ditemui Majalah Yamamah tentang kematian seorang gadis berusia 20 tahun pada kecelakaan kendaraan. Beberapa saat sebelum meninggal, ia pernah ditanya oleh familinya “Bagaimana keadaanmu wahai fulanah.?” Ia menjawab, “Baik, alhamdulillah.” Tetapi beberapa saat setelah itu ia meninggal dunia. Semoga Allah merahmatinya.
Mereka membawanya ke tempat memandikan mayat. Ketika kami meletakkan mayatnya di atas kayu pemandian untuk dimandikan, kami melihat wajahnya ceria dan tersimpul senyuman seakan-akan ia sedang tidur. Di tubuhnya tidak ada cacat, patah dan luka. Dan anehnya (sebagaimana yang dikatakan ummu Ahmad) ketika mereka hendak mengangkatnya untuk menyelesaikan mandinya, keluar benda berwarna putih yang memenuhi ruangan tersebut menjadi harum kasturi. Subhanallah! Benar ini adalah bau kasturi. Kami bertakbir dan berdzikir kepada Allah sehingga anakku yang merupakan sahabat si mayit menangis melihatnya.
Kemudian aku bertanya kepada bibi si mayit tentang keponakannya, bagaimana keadaannya semasa hidup? Ia menjawab, “Sejak mendekati usia baligh, ia tidak pernah meninggalkan sebuah kewajiban, tidak pernah melihat film, sinetron dan musik. Sejak usia tiga belas tahun, ia sudah mulai puasa senin-kamis dan ia pernah berniat secara sosial membantu memandikan mayat. Tetapi ia terlebih dahulu dimandikan sebelum ia memandikan orang lain. Para guru dan teman-temannya mengenang ketakwaannya, akhlaknya dan pergaulannya yang banyak berpengaruh terhadap teman-temannya baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal.”
Aku katakan, “Benarlah perkataan syair,
Detak jantung seseorang berkata kepadanya,
bahwa kehidupan hanya beberapa menit dan detik saja.
Camkanlah itu dalam dirimu sebelum engkau mati,
Seorang insan mengingat umurnya yang hanya sedetik.”
Dan perkataan yang lebih baik dari itu adalah firman Allah SWT,
“Dan Allah telah menjadikanku selalu berbakti di manapun aku berada.” (Maryam: 31).
Lalu ummu Ahmad melanjutkan ceritanya, Ada lagi jenazah seorang gadis yang berumur 17 tahun. Para wanita memandikannya dan kami melihat jasadnya berwarna putih lalu beberapa saat kemudian berubah menjadi hitam seperti kegelapan malam. Hanya Allah-lah yang mengetahui tentang keadaannya. Kami tidak sanggup bertanya kepada keluarganya, agar kami dapat menyembunyikan aib jenazah. Hanya Allah-lah yang Maha Tahu.
Kita bermohon kepada Allah keselamatan dan kesehatan.
Wahai saudariku apakah dua kisah ini dapat engkau jadikan sebagai pelajaran? Apakah engkau akan mengikuti jejak orang shalih ataukah engkau menjadikan wanita-wanita fasik dan durhaka sebagai tauladan? Kematian bagaimanakah yang engkau pilih?
Kisah ini dicantumkan dalam Majalah al-Yamamah edisi 1557 tanggal 14 Shafar 1320 H.
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad bin Shalih al-Qahthani)
sumber; www.alsofwah.or.id
====================================================================
Diriwayatkan bahwa Abu Ghayyâts, seorang ahli zuhud selalu tinggal di sekitar pekuburan Bukhara, lalu suatu ketika datang ke kota untuk mengunjungi saudaranya. Kebetulan bersamaan dengan itu, putera-putera Amir Nashr bin Muhammad (penguasa setempat) barusan keluar dari kediamannya bersama para biduan dan alat-alat bermain mereka. Tatkala melihat mereka, sertamerta Abu Ghayyâts berkata,
“Wahai diriku, telah terjadi sesuatu yang bila engkau diam, berarti engkau ikut andil di dalamnya.”
Lalu dia mengangkat kepalanya ke langit sembari memohon pertolongan Allah. Kemudian mengambil tongkat lalu menggebuki mereka secara serentak sehingga mereka pun lari kocar-kacir menuju kediaman sang penguasa (Amir). Setibanya di sana, mereka menceritakan kejadian tersebut kepada sang penguasa.
Maka, sang penguasa pun memanggil Abu Ghayyâts seraya berkata,
“Tidak tahukah kamu bahwa siapa saja yang membangkang terhadap penguasa, dia akan diberi makan siang di penjara.?”
“Tidak tahukah kamu bahwa siapa saja yang membangkang terhadap ar-Rahmân (Allah), dia akan makan malam di dalam neraka,?” balas Abu Ghayyâts
“Kalau begitu, siapa yang memberimu wewenang melakukan Hisbah (Amr Ma’ruf Nahi Munkar) ini,?” tanya Amir
“Dia adalah Yang telah mengangkatmu ke tampuk kekuasaan ini,” jawab Abu Ghayyâts
“Yang mengangkatku adalah sang Khalifah,” kata Amir
“Kalau begitu, Yang mengangkatku melakukan Hisbah adalah Tuhannya sang khalifah,” jawab Abu Ghayyâts
“Aku hanya mengangkatmu melakukan Hisbah di daerah Samarkand saja,” kata Amir
“Aku sudah mencopot diriku dari bertugas di sana,” jawab Abu Ghayyâts
“Aneh kamu ini, engkau melakukan Hisbah di tempat yang tidak diperintahkan kepadamu dan menolak melakukannya di tempat kamu diperintahkan,?” kata Amir lagi
“Sesungguhnya jika engkau yang mengangkatku, maka suatu ketika kamu akan mencopotku akan tetapi bila Yang mengangkatku adalah Rabbku, maka tidak akan ada seorangpun yang dapat mencopotku,” tegas Abu Ghayyâts pula
“Baiklah, sekarang mintalah apa keperluanmu,!” tanya Amir akhirnya
“Yang aku perlukan adalah kembali lagi ke masa muda,” kata Abu Ghayyâts
“Wah, itu bukan wewenangku, mintalah yang lain,!” kata Amir
“Kalau begitu, tulislah kepada Malaikat Malik, penjaga neraka, agar tidak menyiksaku kelak,” kata Abu Ghayyâts
“Wah, itu bukan wewenangku juga, mintalah yang lainnya,!” kata Amr
“Kalau begitu, tulislah kepada malaikat Ridlwân, penjaga surga, agar memasukkanku kelak ke dalam surga,!” jawab Abu Ghayyâts
“Wah, itu juga bukan wewenangku,” kata Amir lagi
“Kalau begitu, keperluanku hanya kepada Allah Yang merupakan Pemilik semua keperluan dan kebutuhan, Yang tidaklah aku meminta kepada-Nya suatu keperluan melainkan pasti Dia akan mengabulkannya,”jawab Abu Ghayyâts
Atas jawaban tegas dan brilian itu, akhirnya Abu Ghayyâts dibebaskan oleh sang Amir bahkan dia malah salut dengan keimanan dan keberaniannya.
(SUMBER: Buku Mi`ah Qishshah Wa Qishshah Fî Anîs ash-Shâlihîn Wa Samîr al-Muttaqîn disusun oleh Muhammad Amîn al-Jundy, Juz II, h.29-33)
sumber; www.alsofwah.or.id

Sabtu, 18 Februari 2012

Teruslah Berkarya

Jangan berhenti. Bukan karena berhenti akan menghambat laju kemajuan anda. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa anda tak akan pernah bisa berhenti. Meski anda berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak anda mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah, bekerjalah, berkaryalah. Bekerja bukan sekedar untuk meraih sesuatu. Bekerja memberi kebahagiaan diri. Itulah yang diharapkan oleh alam dari anda.
Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih gampang berkarat. Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan ini; Jangan berhenti berkarya, atau anda segera menjadi tua dan tak berguna.
 sumber : iphincow.wordpress.com/

Kamis, 16 Februari 2012

kisah cinta yang sangat suram

Cerita kali ini tentang pasangan yang putus gara gara jarak memisahkan hubungan ane sama si alya

ada pasangan LDR yang jaraknya cukup jauh .
namanya
alya = Purworejo
ane rifqi = Purwokerto

ane sayang banget sama si alya sampe - sampe ane mutusin si alya demi kebahagiaanya .
tapi ane itu seneng kalo alya bahagia, walaupun bukan sama ane itu melainkan sama cowo lain karena ane sama alya menjalin hubungan LDR (pacaran jarak jauh)
ane takut kalo si alya itu tersiksa kalo ane sama alya tuh berhubungan LDR yang bisa berhubungan cuma di sms,telfon,facebook,twitter pake alat komunikasi doang.
jadi dengan penuh rasa pahit dan rasa sakit ane tu memutusin alya.
gak tahu kalo niat ane itu demi kebahagiaanya.
tapi si alya menilai ane itu jahat lah kejam lah dll
dan alya itu berhubungan dengan cowo lain dan alya bahagia dengan cowo itu sendiri. (coba bayangin orang yang kite sayang bisa bahagia sama orang lain rasanya iri,sedih gitu)
dan suatu saat ane liat langsung si alya yang lagi liburan di kota ane Purwokerto
hati ane rasanya bahagia dan rasa cinta yang dulu berusaha ane lupakan itu mulai muncul lagi.
tapi apa daya ane juga sudah punya pasangan lagi dan si alya juga sudah punya yang baru.
dan ane gak ingin menghianati cinta ane kepada pasangan yang sekarang
dan saat itu si alya sudah pulang ke kota asalnya
ane merasa sangat bersedih dan suram.
dan ane merenungi kepergian si alya dengan lagu supernova yang berjudul ''sayang''
dan saat mendengarkan lagu itu ane meneteskan air mata
dan terbayang wajah si alya itu
ane hanya bisa pasrah dan mencoba menjalani apa adanya
dan berusah untuk melupakan si cewe walaupun rasanya sangat sakit dan pahit

jadi kesimpulanya ane pengen buat si alya bahagia walaupun gak sama ane .
jadi ane lakuin demi kebaikan alya ama ane

bagemane sakitnye orang yang kite sayangin menganggap kite jahat,kejam
walaupun kita jelasin kalo niat kite baik
LordChoi is offline  

Cara Berterima Kasih Kepada Ibu

seorang ibu menggendong anaknya.
Apakah Anda mengasihi Ibu Anda? Apakah Anda masih ingat betapa besar kasih sayangnya Ibu Anda? Dalam kehidupan ini, kasih sayang seorang ibu takkan pernah bisa lepas dari hari-hari kita. 

Semenjak kita bayi, anak kecil, hingga menjadi seorang yang cukup dewasa, ibu selalu memberikan yang terbaik bagi kita. Dan tentunya ibu melakukan itu semua dengan penuh keikhlasan.Tetapi sangat disayangkan, kadang kita membalas kebaikan ibu dengan rasa terima kasih yang salah. Nah berikut ingin saya bagikan kepada anda, 23 Terima Kasih dari Anak kepada Ibunya :

  1. Ketika berusia setahun, ibu suapkan makanan dan mandikan kita. Cara kita ucapkan terima kasih kepadanya hanyalah dangan menangis sepanjang malam.
  2. Apabila berusia 2 tahun, ibu mengajar kita bermain. Kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan lari sambil tertawa apabila dipanggil.
  3. Menjelang usia 3 tahun, ibu menyediakan makanan dengan penuh rasa kasih sayang. Kita ucapkan terima kasih kepadanya dengan menumpahkan makanan itu kelantai.
  4. Ketika berusia 4 tahun, ibu membelikan sekotak pensil warna untuk kita. Kita berterima kasih dengan cara mencoret-coret dinding.
  5. Berusia 5 tahun, ibu membelikan sepasang pakaian baru. Kita ucapkan dengan berputar-putar dalam tempat-tempat yang kotor.
  6. Setelah berusia 6 tahun, ibu menggandeng tangan kita ke sekolah. Kita ucapkan terima kasih dengan menjerit; Tidak mau! Tidak mau!.
  7. Saat berusia 7 tahun, ibu membelikan kita sebuah bola. Kita ucapkan terima kasih dengan memecahkan kaca teteangga.
  8. Menjelang usia 8 tahun, ibu belikan kita es krim. Kita ucapkan terima kasih dengan menumpahkan es krim tersebut ke pakaian ibu.
  9. Ketika berusia 9 tahun, ibu mngengantarkan kita ke sekolah. Kita ucapkan terima kasih dengan berlari meninggalkannya dan menuju ruang kelas.
  10. Berusia 10 tahun, ibu menghabiskan waktu seharian menemani kita ketempat yang kita mau. Kita berterima kasih kepadanya dengan tidak bertegur sapa padanya.
  11. Ketika berusia 12 tahun, ibu menyuruh mengerjakan PR. Kita ucapkan terima kasih dengan pergi menonton TV.
  12. Menjelang usia 13 tahun, ibu memberikan pakaian yang menutup aurat. Kita ucapkan terima kasih dengan mengatakan; “ Pakaian itu sudah ketinggalan zaman”.
  13. Ketika berusia 14 tahun, ibu mengantarkan kita memasuki sekolah lanjutan. Kita berterima kasih kepadanya dengan mengatakan; “ Tidak usah diantar,saya bisa sendiri”.
  14. Memasuki 18 tahun, ibu menangis gembira ketika kita telah lulus dari sekolah menengah. Kita berterima kasih kepadanya dengan berpesta bersama teman dan meninggalkan ibu sendiri dirumah.
  15. Ketika berusia 20 tahun, ibu bertanya kepada kita apaka ada teman istimewa?. Kita berterima kasih dengan berkata; “ Itu bukan urusan ibu”.
  16. Setelah berusia 21 tahun, ibu memberika pandangan mengenai dunia kerja, kita malah berterima kasih dengan berkata ; “ Saya tidak mau bekerja seperti ibu “.
  17. Saat berusia 22-23 tahun, ibu membelikan perabot baru untuk rumah kita, kita mengatakan, pilihan ibu tidak bagus, saya tidak suka.
  18. Menjelang usia 24 tahun, ibu bertemu bakal menantu dan bertanya mengenai rancangan masa depan. Kita menjerit dan merungut, “ ibu,tolonglah..!”.
  19. Ketika berusia 25 tahun, ibu bersusah payah menanggung biaya perkawinan kita, kita berterima kasih dengan meninggalkannya pergi bersama isteri kita.
  20. Pada usia 30 tahun, ibu menelpon dan memberi nasehat dan petuah mengenai bayi kita, dan kita berterima kasih kepadanya dengan berkata: “ Itu dulu, sekarang zaman modern.”
  21. Ketika berusia 40 tahun, ibu mengingatkan ada acara keluarga dikampung. Kita berterima kasih dengan berkata: “ Saya sibuk, tak ada waktu untuk datang...”.
  22. Ketika berusia 50 tahun ibu jatuh sakit dan minta kita menjaganya, dan kitapun berterima kasih dengan mengatakan bahwa ibu dan bapak hanya menjadi beban bagi saya...
  23. Dan kemudia kita mendapat berita tentang kematian ibu. Kabar itu bagai petir di siang bolong. Dalam lelehan air mata, barulah kita sadar arti seorang ibu bagi kita.

Itulah tadi 23 ungkapan terima kasih yang kita berikan ketika ibu membesarkan kita. Kiranya setelah menyadari ini semua, kita dapat memberikan terima kasih yang sebenarnya kepada ibu. Karena tanpa ibu pula, kita takkan bisa seperti sekarang ini.

Sudahkah anda berterima kasih kepada ibu anda?Ungkapkan rasa kasih sayang kepada ibu anda....

Ibu... maafkan aku...

ibu..maafkan anakmu..
Sunday, September 26, 2010 9:39 PM

 Ibunda…adalah Anugrah terindah milik kita..dari Rahimnyalah Lahir  Pejuang2 Islam,mujtahid2 Islam..Ibu kita Mungkin tidak seperti Ibunda  dari Abdullah Bin Zubair, Bukan Ibunda Dari Imam Syafi’I dll…..Mungkin  kita terlahir dari seorang Ibu yang Biasa..tapi bagaimanapun beliau  Tetaplah Anugrah yang sangat Indah Milik kita..Dengan segala  ketulusannya kita bisa menjadi seperti saat ini..Sungguh jasanya tak  mungkin terbalaskan oleh kita..



Ibunda..beliau tak pernah  meminta balas jasa dari kita..Sungguh jasanya tak mungin bisa kita  sebutkan satu persatu…Ibunda…pernahkah kita menangis saat kita  mengingat beliau..Menagiskah kita saat bibir melantunkan Doa  untuknya…Ingatkah kita kepada beliau saat mata terbuka dari lelap  tidur..Ingatkah kita kepada beliau saat kesuksesan menyapa kita..Apakah  kita memeluk dan mencium tangan beliau saat kesuksesan itu datang..Ingatkah  kita tangan yang kasar karena kerja keras beliau untuk membesarkan  kita..Seringkah kita mencium tangan yang kasar itu..Apakah mata  ini sering di basahi oleh air mata,Karena mengenang kesabaran beliau  saat mengandung kita..Apakah air mata kita pernah menetes saat kita  mengenang perjuangan beliauDi saat melahirkan kita..Perjuangan  hidup dan mati demi rasa cintanya kepada kita..Demi menginginkan  buah hatinya agar dapat melihat keinindahan dunia..Apakah kita ingat  beliau di dalam keseharian kita..



Ibu..maafkan anakmu yang  jarang mengingatmu..Terkadang anakmu begitu egois yg hanya mengingat  saat engkau memarahi saja..Bahkan anakmu tak pernah mengucapkan  terimakasih..Terima kasih kepada engkau karena telah  melahirkan,mengasuh kami dsb..Ibu..maafkan anakmu yang belum bisa  memberi kebahagian..Ibu..maafkan anakmu..maafkan..Sungguh jangan  pernah hilangkan ingatan kita untuk ibu..



Ya Rabb..sayangi ibu  hamba dengan segala kebaikan menurutMU..Sayangi beliau sebagaiman  sayang beliau terhadap hamba..YA Rabb…dari sisa umur yang hamba  miliki..Izinkan hamba membahagiakan Beliau..Rabb..Limpahkan  kasih sayangMU kepada beliau..Amiin Allahumma amin.



Bidadari Yang Terluka

Satu kruk yang selalu setia ditangannya selalu terbayang setiap kali mengenang beliau.

Juga dua sepatunya yang berukuran tak sama.

Seperti ungkapnya, "Memang kaki ini istimewa." dan beliau tersenyum, meskipun saya khawatir dengan guratan kesedihan dihatinya.

Saya juga selalu terbayang dengan langkahnya yang goyang dan pelan -tapi mantap- menapak ke tanah.

Juga keringatnya yang selalu mengalir dalam keletihan.



Saya senantiasa mengenangnya karena beliau tidak pernah letih menjalani roda dakwah.

cacat kaki tak pernah menghalanginya menebarkan kebaikan.

Dengan keterbatasan fisiknya beliau mampu melakukan banyak hal - yang saya yakini - dikarenakan semangatnya yang luar biasa untuk berbuat.



Beliaulah jelmaan seorang wanita mulia yang hidup pada masa jihad dulu, saat Manshur bin Ammar memerintahkan kaum muslimin bejihad di jalan Allah.

Kemiskinan tidak menghalanginya untuk menyambut seruan itu.

Maka,, dibungkusnya dua kendali kuda miliknya dan digoreskannya selembar surat.

"Ibnu Ammar, anda memerintahkan kaum muslimin berjihad di jalan Allah. Demi Allah, aku tidak memiliki harta kecuali pengekang kuda ini yang saya berikan kepada anda. Demi Allah, jadikanlah keduanya ikatan kuda prajurit yang turut berperang di jalan Allah. Semoga dengan ini Allah mengasihi saya."



Gambaran wajah perempuan itu saya banyangkan sebagai wajah beliau.

mereka sama-sama mempunyai keterbatasan.

Perempuan itu tak punya harta, sedang beliau tak punya kesempurnaan fisik.

Semua itu tidak menghalanginya mempersembahkan diri untuk jihad.

Subhanallah ...



Sebagaimana ungkapan istri mujahidin di Afganistanpada Zainab Al-Ghazali, "iBunda, apalagi yang harus kami berikan untuk jihad ini ? tangan kami telah mengeras dan kasar, perut kami terbiasa kosong menahan lapar, dan hati ini kebal mendengar kabar duka. Apalagi yang dapat kami persembahkan untuk jihad ini, ibunda ?"

Lalu, kenapa saya juga tak bisa banyak berbuat denga harta dan kesempurnaan fisik serta waktu luang yang saya miliki ?



Pun bagaimana ia menerima cobaan yang sangat berat itu, semua butuh keberanian dan jiwa besar.

Bahkan airmata itu, selalu terkenang dalam hati -insyaalah untuk selamanya - kala beliau menceritakan kepedihan hatinya, di sela-sela kebahagian dua pengantin yang bersanding saat itu.

Kerut wajahnya saya cermati dengan baik, juga rintihan hatinya.

Beliau berduka.



"Dik, saya orang yang luar biasa, maka seorang yang bisa menggandeng saya pun harus orang yang luar biasa."

Dan beliau tersenyum di sela derai airmatanya.



Dan saya masih menyimpan pertanyaan yang tak tahu kapan akan terjawab.

Adakah orang yang luar biasa itu ?

Bukan hanya luar biasa karena kruknya, tetapi luar biasa karena keikhlasan yang membumbung ke langit, yang akan disambut para malaikat.



by : Koesmarwanti "Catatan Seorang Ukhti"

::::CINTA DALAM HENING::::
Sunday, September 26, 2010 10:29 PM

Duhai gadis, maukah ku  beritahukan  padamu bagaimana mencintai dengan indah?

Inginkah ku  bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu.

Maka dengarlah..

Gadis,  Saat ku jatuh cinta..

Tak akan ku berucap..

Tak akan ku  berkata..

Namun ku hanya akan diam..

Saat ku mencintai,  takkan pernah ku menyatakan.

Tak akan ku menggoreskan..

Yang  ku lakukan hanyalah diam..



Aku tahu, cinta adalah  fitrah..sebuah anugrah tak terperih..

Karena cinta adalah  kehidupan. Karena rasa itu adalah cahaya. Aku tahu, hidup tanpa cinta,  bagaikan hidup dalam gelap gulita.. Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka  hadapi dgn anggun. Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan  begitu banyak warna. Cinta terkadang mbuatmu bahagia, namun tak jarang  mbuatmu menderita. Cinta ada kalanya manis bagaikan gula, Namun juga  mampu memberi pahit yang sangat getir. Cinta adalah perangkap rasa..  Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang   lama dalam lingkaran derita.



Maka gadis, Agar kau dapat  keluar dari belenggu itu. Dan mampu melaluinya dgn anggun.. Maka  mencintailah dalam hening. Dalam diam.. Tak perlu kau lari, tak perlu  kau hindari. Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan. Jangan kau  umbar rasamu. Jangan kau tumpahkan segala sukamu..



Cobalah  merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang.. Kita percaya takdir bukan?  Kita tahu dengan sangat jelas... Dia, Allah telah mengatur segalanya  dengan begitu rapinya? Jadi, apa yang kau risaukan? Biarkan Allah yg  mengaturnya, Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..



Cobalah  renungkan... Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan  pernah menjadi  milikmu.. Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang  dan yang kau tangisi ketika  malam, Akankah dia yang telah Allah  takdirkan denganmu?



Gadis, kita tak tahu dan tak akan  pernah tahu.. Hingga saatnya tiba.. Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah  kau malu jika smua rasa telah kau  umbar... Namun ternyata kelak bukan  kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya? Gadis, Karena cinta kita  begitu agung untuk di umbar.. Begitu mulia untuk di tampakkan.. Begitu  sakral untuk di tumpahkan..



Dan sadarilah gadis, fitrah  kita wanita adalah pemalu, Dan kau indah karena sifat malumu.. Lalu,  masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?  Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap.. Duhai  gadis, jadikan malu sebagai selendangmu.. Maka tawan hatimu sendiri  dalam sangkar keimanan.. Dalam jeruji kesetiaan.. Yah.. Kesetiaan  padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di  Lauhul Mahfuzh..  Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..



 Maka cintailah dlm  hening. Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu, Maka  cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu.. Agar kesucianmu tetap  terjaga.. Agar keanggunanmu tetap terbias..



Maka, ku  beritahukan padamu, Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan. Acuhkan  semua godaan yg menghampirimu.. Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan  untuk kau musnahkan.. Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya  cukup kau arahkan..



Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu,  sabar dan percaya..

Maka, peganglah kendali hatimu, Lalu..Arahkan  pd Nya.. Dan cintailah dalam diam.. Dalam hening.. Itu jauh lebih  indah..



Jauh lebih suci